Menyambut Ramadhan Penuh Berkah: 5 Bekal yang Wajib Disiapkan Agar Ibadah Maksimal & Dosa Terampuni

Ramadhan adalah kesempatan agung. Simak 5 bekal esensial dari Ustadz Dr. Firanda Andirja agar ibadah Ramadhan Anda maksimal, dosa terampuni, dan meraih derajat surga tertinggi.

Ramadhan, Bulan Penuh Berkah yang Menjanjikan Ampunan

Tidak terasa, waktu berlalu begitu cepat, dan kita telah berada di hari-hari menjelang bulan Ramadhan. Bulan suci ini adalah waktu yang sangat menjanjikan. Ia adalah peluang agung bagi kita yang penuh kekurangan dan dosa untuk memperbaiki diri, menjadi lebih baik.

Namun, Ustadz Dr. Firanda Andirja dalam ceramahnya mengingatkan bahwa tidak semua orang bisa mendapatkan taufik (pertolongan) dari Allah Subhanahu wa ta’ala untuk bisa beramal saleh dengan sebaik-baiknya di bulan ini.

Mengapa Ramadhan Begitu Agung? Pelajaran dari Dua Sahabat

Keagungan mendapatkan bulan Ramadhan dapat kita lihat dari kisah dua orang sahabat yang berhijrah bersamaan. Sahabat pertama lebih semangat, ikut peperangan, dan mati syahid. Sahabat kedua, yang kurang semangat, masih hidup setahun setelah temannya wafat, lalu meninggal dunia setelahnya.

Dalam mimpi Talhah, (sahabat yang meninggal terakhir) yang kurang semangat, justru diizinkan masuk surga lebih dahulu daripada yang mati syahid!

Nabi Muhammad ﷺ menjelaskan alasannya: “Bukankah temannya yang kurang semangat beribadah tadi, masih hidup setahun setelah yang mati syahid? Bukankah dia mendapatkan bulan Ramadhan, kemudian dia berpuasa?”. Nabi ﷺ menambahkan, jarak surga antara keduanya sejauh-jauh jarak antara langit dan bumi.

Ini menjadi dalil nyata bahwa mendapatkan bulan Ramadhan adalah sesuatu yang sangat agung. Umur tambahan yang diisi dengan puasa Ramadhan dan sujud (salat) sanggup mengungguli keutamaan mati syahid.

Untuk itu, mari siapkan 5 Bekal Wajib agar kita bisa menjalani Ramadhan dengan maksimal.

Meraih Ampunan Penuh (Imanan wa Ihtisaban)

Dosa adalah masalah utama kita di dunia dan akhirat. Segala musibah, masalah ekonomi, keluarga, dan relasi, semuanya berakar dari dosa. Oleh karenanya, tidak ada ganjaran paling indah yang Allah janjikan selain diampuninya dosa-dosa.

Sama seperti ibadah Haji yang sangat agung dan ganjaran terbesarnya adalah pengampunan dosa, Ramadhan juga menawarkan janji yang sama. Syaratnya disebutkan oleh Rasulullah ﷺ:

“Siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan penuh keimanan (Imanan) dan penuh semangat mengharapkan pahala (Ihtisaban), maka dia akan diampuni dosa-dosa yang telah lalu.” (HR. Bukhari no. 38 dan Muslim no. 760)

Syarat ini juga berlaku untuk shalat malam (Qiyamul Lail) dan menghidupkan Lailatul Qadar.

Memahami Dua Syarat Kunci:

  1. Imanan (Keimanan): Kita yakin bahwa puasa Ramadhan adalah syariat dari Allah, dan yakin bahwasanya janji-janji Allah (pengampunan) pasti akan kita dapatkan.
  2. Ihtisaban (Semangat dan Mengharap Pahala): Artinya kita menjalankan ibadah dengan penuh semangat, bukan dengan keterpaksaan atau malas-malasan. Meskipun ibadah itu berat (seperti Haji), orang yang ihtisab akan tetap semangat mencari pahala. Semangat inilah yang harus kita hadirkan sejak malam pertama Ramadhan.

Mengagungkan Pahala (Melipatgandakan Amal)

Ketahuilah bahwa beramal saleh di bulan Ramadhan, pahalanya dilipatgandakan.

1. Umrah Ramadhan Setara Haji 

Contoh yang paling jelas adalah Umrah di bulan Ramadhan. Rasulullah ﷺ bersabda, 

Umrah pada bulan Ramadhan senilai dengan haji” (HR. Muslim no. 1256) 

Bahkan, dalam sebagian riwayat, pahalanya seperti berhaji bersama Nabi ﷺ 

“Sesungguhnya umrah di bulan Ramadhan seperti berhaji bersamaku” (HR. Bukhari no. 1863). 

Ini menunjukkan betapa Allah memperbesar pahala amal di bulan ini.

2. Keutamaan Lailatul Qadar 

Di dalamnya terdapat Malam Lailatul Qadar, yang mana Allah berfirman pada surah Al-Qadr: 3 (Lailatul Qadar itu lebih baik daripada seribu bulan). Seribu bulan setara dengan lebih dari 83 tahun.

Artinya, jika ibadah kita diterima di malam itu, itu lebih baik daripada beribadah sepanjang hidup kita. Kesempatan besar ini harus membangkitkan semangat kita.

3. Teladan Kedermawanan Nabi ﷺ 

Inilah yang dipahami oleh Nabi ﷺ dan para sahabat. Nabi ﷺ adalah orang yang paling dermawan, dan beliau berada di puncak kedermawanan ketika di bulan Ramadhan. Beliau menjadi lebih semangat bersedekah dan beramal, terutama saat bertemu Jibril Alaihis Salaam.

Menghindari Kerugian Fatal (Peringatan Jibril)

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu,

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah naik mimbar kemudian berkata, ‘Amin, Amin, Amin’ Ditanyakan kepadanya, ‘Ya Rasulullah, (mengapa) Anda naik mimbar kemudian mengucapkan Amin, Amin, Amin?’ Beliau bersabda,

‘Sesungguhnya Jibril ‘alaihish shalatu wassalam datang kepadaku, dia berkata, ‘Barangsiapa yang mendapati bulan Ramadhan namun tidak diampuni dosanya, maka akan masuk Neraka dan akan Allah jauhkan dia, katakan, ‘Amin’, maka aku pun mengucapkan, ‘Amin’” (HR. Ibnu Hibban, dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani).

Jika kita tidak diampuni sampai 30 malam Ramadhan berlalu, kita benar-benar celaka dan merugi.

Ramadhan adalah bulan yang menjanjikan pengampunan dan pembebasan dari neraka (utauqaulillah). Ini tidak hanya berlaku di 10 hari terakhir. Nabi ﷺ bersabda bahwa setiap malam di bulan Ramadhan, Allah mengeluarkan hamba-hamba-Nya dari catatan di neraka menuju surga.

Ini berlaku sejak malam pertama sampai malam terakhir. Artinya, jika malam pertama kita belum berhasil, masih ada malam kedua dan seterusnya. Oleh karenanya, sejak awal malam, kita harus “tancap gas” dan langsung serius beribadah.

Mengelola Waktu (Melawan Syaitan Kontemporer)

Untuk bisa beramal maksimal dan optimal, kita harus memanajemen waktu. Kita harus menghargai umur, karena jika umur tidak dihargai, kita tidak akan bisa memaksimalkan Ramadhan.

Syaitan Terbesar Zaman Sekarang

Ustadz Dr. Firanda Andirja menyampaikan ceramah dalam sebuah klip video yang menyebutkan, “Kalo jaman dulu syaitan ada, jaman sekarang syaitan paling besar HP katanya. Akbar Syaitan jelasnya, syaitan paling besar ini adalah HP (telepon genggam).”

Grup-grup media sosial, obrolan yang tidak bermanfaat, dan relasi yang berlebihan dapat menghabiskan waktu, membuat kita tidak bisa membaca Al-Qur’an atau ibadah lain. Jika waktu habis, kita tidak akan bisa mengisi Ramadhan dengan maksimal.

Teladan Pengelolaan Waktu

Sebagai motivasi, disebutkan kisah seorang pedagang yang berusia 50-an tahun, namun mampu mengkhatamkan Al-Qur’an sebanyak 15 kali dalam satu bulan Ramadhan. Beliau mengatur waktu, menyiapkan Al-Qur’an yang pas, dan terus membaca.

Semangat ini menunjukkan bahwa jika kita serius dan mengagungkan Ramadhan, Allah Subhanahu wa ta’ala pasti akan memberi taufik.

Meneladani Salaf & Memaksimalkan Akhir

1. Semangat Mengagungkan Hari

Masalah kita adalah kita sering menganggap Ramadhan sebagai rutinitas seharian yang lewat begitu saja. Berbeda dengan para salaf (ulama terdahulu):

  • Setengah tahun (enam bulan), mereka berdoa kepada Allah agar bertemu dengan bulan Ramadhan.
  • Setengah tahun berikutnya, mereka berdoa agar amal mereka di bulan Ramadhan diterima.

Pengagungan hari ini yang membuat mereka semangat luar biasa ketika Ramadhan tiba. Kita pun harus menjauhi obrolan, kurangi relasi, atur waktu, dan alokasikan waktu untuk beribadah.

2. Memaksimalkan Ibadah dengan I’tikaf

Terutama ketika sudah bertemu dengan 10 hari terakhir, jangan lupa untuk i’tikaf.

I’tikaf adalah kesempatan untuk menyendiri (khalwat) dengan Allah Subhanahu wa ta’ala, beribadah sendiri, membaca Al-Qur’an sendiri, dan berdoa. Ibnul Qayyim menyebutkan bahwa melatih diri untuk bahagia dalam kesendirian, salah satunya melalui i’tikaf, adalah latihan untuk kebahagiaan kita di alam barzah tatkala kita bersendirian.

Jangan Sia-siakan Umur, Jadilah Hamba yang Terpilih

Kita yang masih diberi kesempatan bernapas dan bertemu bulan Ramadhan tidak boleh menyia-nyiakannya. Ingatlah peringatan dari malaikat Jibril Alaihis Salaam: “sungguh merugi orang yang melewati Ramadhan tanpa diampuni”. 

Selagi kita masih hidup diberikan kesehatan dan kemudahan, maka jadikan Ramadhan ini sebagai momentum penentuan nasib kita di alam barzah dan hari kebangkitan. Sejak malam pertama, tancapkan gas! Langsung serius beribadah dengan Imanan wa Ihtisaban, kelola waktu Anda, dan raihlah status sebagai orang-orang yang terhindar dari siksa api neraka di setiap malamnya.

Source: Youtube Ustadz Firanda Andirja

Share the Post:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita lainnya

Ikuti berita seputar kami